Tuesday, May 12, 2026
Tuesday, April 28, 2026
Tuesday, February 24, 2026
Definisi Ilmu versi Imam Al Gazhali
Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi atau hasil berpikir rasional, melainkan cahaya yang Allah tanamkan ke dalam hati manusia. Dalam karya monumentalnya, Ihya Ulum al-Din, beliau menjelaskan bahwa hakikat ilmu adalah sesuatu yang menghidupkan hati, membimbing akal, dan menuntun amal. Ilmu sejati akan melahirkan ketakwaan serta mendekatkan seorang hamba kepada Allah, bukan sekadar memperluas wawasan intelektual.
Pandangan ini sejalan dengan Al-Qur’an, misalnya dalam Surah Az-Zumar (39:9): “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Ayat lain, Surah Al-Mujadilah (58:11), menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Dalam perspektif Al-Ghazali, kemuliaan ini bukan hanya karena kapasitas berpikir, tetapi karena ilmu yang benar akan membentuk akhlak dan memperbaiki orientasi hidup manusia.
Dengan demikian, definisi ilmu menurut Imam Al-Ghazali bersifat holistik: mencakup dimensi intelektual, spiritual, dan moral sekaligus. Ilmu harus melahirkan amal dan memperhalus hati. Jika ilmu tidak membawa pada kebaikan dan ketundukan kepada Allah, maka ia belum mencapai derajat ilmu yang hakiki sebagaimana yang dimaksudkan dalam tradisi keilmuan Islam klasik.
Monday, February 23, 2026
Konsep Keseimbangan dalam Ar Rahman: 7-9
Dalam perspektif Islam, alam dipahami sebagai ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Tuhan). Relasi ini menunjukkan bahwa eksplorasi ilmiah terhadap alam bukanlah sekadar aktivitas teknis, melainkan juga bentuk pembacaan terhadap tanda-tanda ilahi.
Konsep mīzān (keseimbangan) dalam QS. Ar-Rahman: 7–9 dapat dikaji paralel dengan konsep keseimbangan ekosistem dalam ekologi modern.
Gagasan alam sebagai “buku Tuhan” juga dikembangkan oleh Said Nursi dalam Risale-i Nur.
Referensi:
Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature.
Foltz, R. (2003). Islam and Ecology.
Sunday, February 22, 2026
An Nahl 68-69: Prinsip Keseimbangan dalam Peran Lebah
Saturday, February 21, 2026
LEBAH SEBAGAI SIMBOL ECO-CIVILIZATION
Dalam konteks konservasi modern, lebah adalah simbol eco-civilization — harmoni antara makhluk hidup, lingkungan, dan nilai spiritual.
-
Keteraturan dan desain sistemik. Dalam Surah An-Nahl, lebah digambarkan menerima “wahyu” untuk menjalankan fungsi tertentu. Ini menunjukkan bahwa alam bekerja dalam tatanan yang teratur dan sistemik, bukan kebetulan. Dalam konservasi berbasis ekosistem, prinsip ini tercermin pada pemahaman bahwa setiap spesies memiliki peran ekologis dalam jaringan kehidupan (ecological network). Gangguan pada satu unsur dapat memengaruhi keseluruhan sistem. Dengan demikian, konservasi bertujuan menjaga integritas sistem tersebut.
-
Keseimbangan ekologis. Lebah mengambil nektar tanpa merusak bunga dan sekaligus membantu proses penyerbukan. Ini adalah contoh keseimbangan antara pemanfaatan dan keberlanjutan. Dalam pendekatan ekosistem, keseimbangan berarti menjaga daya dukung lingkungan, keanekaragaman hayati, dan siklus alami agar tetap stabil. Eksploitasi yang melampaui batas akan merusak keseimbangan tersebut
-
Manfaat timbal balik antara manusia dan alam. Surah An-Nahl menyebut madu sebagai “penyembuh bagi manusia.” Artinya, alam memberi manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam kajian ekologi, hal ini dikenal sebagai jasa ekosistem (ecosystem services), seperti penyerbukan, penyediaan pangan, air bersih, dan stabilitas iklim. Hubungan ini bersifat timbal balik: manusia memperoleh manfaat, namun juga wajib menjaga kelestarian sumbernya.
-
Tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah. Dalam teologi Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi, yaitu pemegang amanah untuk memelihara dan mengelola, bukan merusak. Dalam konservasi modern, ini selaras dengan prinsip etika lingkungan, yaitu pengelolaan sumber daya secara adil, berkelanjutan, dan bertanggung jawab lintas generasi.
Friday, February 20, 2026
KONSEP HIMA DAN HARIM DALAM KONSERVASI
Konsep hima dan harim dalam tradisi islam menginspirasi pengembangan kebijakan community-based conservation (Widiatuty dan Anwar, 2025).
Thursday, February 19, 2026
Konsep Eko-Teologi dalam Memahami Alam
Salah satu tokoh yang mengkaji relasi antara agama dan lingkungan adalah Badiuzzaman Said Nursi. Ia berpendapat bahwa krisis ekologis bukan semata-mata persoalan budaya dan perilaku manusia, melainkan juga berakar pada kesalahpahaman manusia dalam memahami ajaran agama.
Said Nursi menawarkan kesadaran spiritual atau perspektif ekoteologis dalam memahami alam. Melalui ekoteologi, dilakukan penafsiran ulang terhadap pengalaman keagamaan, khususnya terhadap pemahaman keagamaan yang keliru tentang posisi, peran, dan tanggung jawab manusia dengan melibatkan hati (kesadaran batin).
Hal yang paling mendasar dalam gagasan ekoteologi Said Nursi adalah adanya hubungan ontologis yang tidak dapat dipisahkan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Said Nursi memahami bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari Tuhan. Oleh karena itu, keberadaan alam tidak dapat dipisahkan dari Allah SWT sebagai pusat eksistensi.
Sementara itu, dalam kaitannya dengan manusia, Nursi memandang alam sebagai tanda atau bukti paling penting atas keberadaan Allah SWT.
Said Nursi menjelaskan bahwa hakikat alam semesta adalah sebuah kitab. Kitab alam itu harus dibaca dan dipahami sebagaimana ia membaca Al-Qur’an, yang merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah. Menurut Nursi, alam semesta adalah kitab besar, sedangkan Al-Qur’an adalah penafsiran atau penjelasannya.
Karena alam semesta merupakan “kitab” yang diciptakan oleh Tuhan, maka ia adalah karya seni yang indah, agung, dan luar biasa. Namun, karena alam adalah sebuah mahakarya seni, maka ia (alam) tidak mungkin menjadi pencipta dari karya seni itu sendiri.
Secara konseptual, Nursi melihat alam sebagai tanda (ayat kauniyah) yang menunjuk kepada Sang Pencipta—bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri atau menciptakan dirinya sendiri.
Sumber: https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/islamt/article/view/5913/pdf
Wednesday, February 18, 2026
MARHABAN YA RAMADHAN
Bulan suci kembali hadir, membawa kesempatan untuk memperdalam refleksi diri dan memperkuat kualitas spiritual. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk melatih kesabaran, mengendalikan diri, serta menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
Dalam suasana yang penuh keberkahan ini, semoga setiap ibadah yang kita tunaikan menjadi sarana penyucian jiwa dan penguatan integritas pribadi. Ramadan juga mengingatkan kita akan pentingnya keseimbangan antara dimensi spiritual, intelektual, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 H.
Semoga Ramadhan tahun ini menghadirkan ketenangan, keberkahan, dan makna yang lebih mendalam bagi kita semua. 🌙
POSTINGAN TERKINI
AMANAH BARU INSTITUSI
Terima kasih atas doa dan dukungannya.
-
PDF Referensi lainnya: Schlich's Manual of forestry Perkuliahan telah dimulai. Tips di awal semester, saatnya mencari referensi sesuai ...
-
[Rabu 9 Oktober 2024] Download PDF Dewi, N., Ritabulan, Indhasari, F. (2024). Knowledge, perception and attitudes of comuunity towards the...

