Salah satu tokoh yang mengkaji relasi antara agama dan lingkungan adalah Badiuzzaman Said Nursi. Ia berpendapat bahwa krisis ekologis bukan semata-mata persoalan budaya dan perilaku manusia, melainkan juga berakar pada kesalahpahaman manusia dalam memahami ajaran agama.
Said Nursi menawarkan kesadaran spiritual atau perspektif ekoteologis dalam memahami alam. Melalui ekoteologi, dilakukan penafsiran ulang terhadap pengalaman keagamaan, khususnya terhadap pemahaman keagamaan yang keliru tentang posisi, peran, dan tanggung jawab manusia dengan melibatkan hati (kesadaran batin).
Hal yang paling mendasar dalam gagasan ekoteologi Said Nursi adalah adanya hubungan ontologis yang tidak dapat dipisahkan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Said Nursi memahami bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari Tuhan. Oleh karena itu, keberadaan alam tidak dapat dipisahkan dari Allah SWT sebagai pusat eksistensi.
Sementara itu, dalam kaitannya dengan manusia, Nursi memandang alam sebagai tanda atau bukti paling penting atas keberadaan Allah SWT.
Said Nursi menjelaskan bahwa hakikat alam semesta adalah sebuah kitab. Kitab alam itu harus dibaca dan dipahami sebagaimana ia membaca Al-Qur’an, yang merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah. Menurut Nursi, alam semesta adalah kitab besar, sedangkan Al-Qur’an adalah penafsiran atau penjelasannya.
Karena alam semesta merupakan “kitab” yang diciptakan oleh Tuhan, maka ia adalah karya seni yang indah, agung, dan luar biasa. Namun, karena alam adalah sebuah mahakarya seni, maka ia (alam) tidak mungkin menjadi pencipta dari karya seni itu sendiri.
Secara konseptual, Nursi melihat alam sebagai tanda (ayat kauniyah) yang menunjuk kepada Sang Pencipta—bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri atau menciptakan dirinya sendiri.
Sumber: https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/islamt/article/view/5913/pdf
No comments:
Post a Comment