Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi atau hasil berpikir rasional, melainkan cahaya yang Allah tanamkan ke dalam hati manusia. Dalam karya monumentalnya, Ihya Ulum al-Din, beliau menjelaskan bahwa hakikat ilmu adalah sesuatu yang menghidupkan hati, membimbing akal, dan menuntun amal. Ilmu sejati akan melahirkan ketakwaan serta mendekatkan seorang hamba kepada Allah, bukan sekadar memperluas wawasan intelektual.
Pandangan ini sejalan dengan Al-Qur’an, misalnya dalam Surah Az-Zumar (39:9): “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Ayat lain, Surah Al-Mujadilah (58:11), menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Dalam perspektif Al-Ghazali, kemuliaan ini bukan hanya karena kapasitas berpikir, tetapi karena ilmu yang benar akan membentuk akhlak dan memperbaiki orientasi hidup manusia.
Dengan demikian, definisi ilmu menurut Imam Al-Ghazali bersifat holistik: mencakup dimensi intelektual, spiritual, dan moral sekaligus. Ilmu harus melahirkan amal dan memperhalus hati. Jika ilmu tidak membawa pada kebaikan dan ketundukan kepada Allah, maka ia belum mencapai derajat ilmu yang hakiki sebagaimana yang dimaksudkan dalam tradisi keilmuan Islam klasik.