Friday, April 26, 2019

[TESIS] KAJIAN POTENSI JASA LINGKUNGAN (BIOMASSA DAN KARBON) HUTAN MANGROVE DI TANJUNG BARA, SANGATTA UTARA, KALIMANTAN TIMUR


Hutan mangrove di Tanjung Bara merupakan salah satu ekosistem pantai yang berada di kawasan konsesi tambang batubara. Hutan ini memiliki nilai jasa lingkungan karena berfungsi sebagai pereduksi emisi yang dihasilkan dari kegiatan operasional tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi jasa lingkungan hutan mangrove di Tanjung Bara, meliputi kajian terhadap potensi biomassa dan karbon vegetasi mangrove di atas permukaan tanah serta peranan hutan mangrove untuk mereduksi emisi karbondioksida yang berasal dari kawasan tambang batubara.
Penelitian dilakukan melalui dua tahapan, yaitu pengambilan data di lapangan dan analisis terhadap kadar air, berat kering, kadar zat terbang, kadar abu dan kadar karbon terikat di laboratorium. Penempatan plot contoh disesuaikan dengan jumlah zonasi mangrove  di Tanjung Bara, yaitu zona Sonneratia, zona Sonneratia-Rhizophora, zona Rhizophora-Ceriops dan zona Ceriops. Vegetasi mangrove diklasifikasikan ke dalam tingkat pohon, anakan pohon dan semai. Kajian potensi biomassa pohon di atas permukaan tanah untuk pohon dilakukan dengan pendekatan persamaan allometrik. Sedangkan anakan pohon dan semai menggunakan pendekatan akumulasi biomassa berdasarkan jumlah berat kering. Simpanan karbon dihitung berdasarkan C = 46% W (biomassa atas permukaan-tanah). Jumlah serapan karbondioksida dihitung dengan CO2 = 3,67 x C.  Proporsi serapan karbondioksida terhadap total emisi dihitung dengan Proporsi serapan CO2 = CO2/E x 100%.
Berdasarkan hasil analisis di laboratorium, bagian cabang anakan pohon  S.alba memiliki rata-rata kadar air tertinggi, yaitu 90,71%. Sedangkan bagian batang anakan pohon C. tagal memiliki rata-rata kadar air terendah yaitu 7,69%. Kadar air semai S. alba lebih besar dibanding R. apiculata dan C. tagal. Batang S. alba secara spesifik memiliki nilai kadar air tertinggi yaitu 26,02%. Sedangkan semai C. tagal memiliki rata-rata kadar air terendah, baik pada daun maupun batang.
Hasil analisis kadar zat terbang, kadar abu dan kadar karbon terikat menunjukkan bahwa zat terbang merupakan kandungan tertinggi yang mendominasi setiap bagian pada anakan pohon dan semai. Ketiga jenis anakan pohon di Tanjung Bara memiliki kadar karbon terikat tertinggi pada bagian batang. Kadar karbon terikat pada batang S. alba sebesar 46,67%, R. apiculata sebesar 45,41% dan C. tagal sebesar 41,86%. Sedangkan kadar karbon terikat pada tingkat semai, daun S. alba dan C. tagal memiliki kadar yang lebih tinggi dibanding bagian batang, masing-masing sebesar 28,24% dan 31,87%. Semai R. apiculata memiliki proporsi yang berbeda dengan semai S. alba dan C. tagal, kadar karbon terikat tertinggi jenis ini berada pada bagian batang sebesar 33,98%.

Potensi biomassa atas permukaan-tanah pada tingkat pohon tertinggi pada zona Sonneratia (303,76 ton/ha) dan terendah pada zona Rhizophora-Ceriops (135,12 ton/ha). Potensi biomassa atas permukaan-tanah pada tingkat anakan pohon tertinggi pada zona Sonneratia (11,70 ton/ha) dan terendah pada zona Rhizophora-Ceriops (7,76 ton/ha). Sedangkan biomassa atas-permukaan pada tingkat semai tertinggi masih pada zona Sonneratia (7,49 ton/ha) dan terendah pada zona Ceriops (3,10 ton/ha). Biomassa atas permukaan-tanah pada keseluruhan zona adalah 238,44 ton/ha dengan jumlah biomassa tertinggi berada pada zona Sonneratia (322,95 ton/ha). 
Rata-rata simpanan karbon vegetasi mangrove di Tanjung Bara adalah 109,68 ton C/ha, simpanan karbon terbesar berada pada zona Sonneratia sebesar 148,55 ton C/ha dan terkecil pada zona Rhizophora-Ceriops sebesar 67,75 ton C/ha. Total karbondioksida di atas permukaan tanah pada masing-masing zona mangrove di Tanjung Bara berkisar 248,64-545,18 ton CO2/ha atau rata-rata 402,53 ton CO2/ha.
Simpanan karbon vegetasi mangrove atas permukaan-tanah di Sangatta Utara sebesar 92.328,62 ton C atau setara dengan 338.849,75 ton CO2. Jumlah emisi karbondioksida dihitung berdasarkan analisa dan prediksi tingkat emisi CO2 dari kegiatan operasional perusahaan tambang batubara pada tahun 2010 mencapai 2.362.703,94 ton CO2 (Wibawa 2006). Hutan mangrove di Tanjung Bara, Sangatta Utara, Kalimantan Timur dengan proporsi luasan 0,52% dari total luas hutan di Sangatta Utara mampu memberi konstribusi jasa lingkungan sebagai pereduksi emisi karbondioksida dari kawasan tambang batubara sebesar14,34%.
Download PDF.

No comments:

Post a Comment

POSTINGAN TERKINI

Definisi Ilmu versi Imam Al Gazhali

Menurut Imam Al-Ghazali, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi atau hasil berpikir rasional, melainkan  cahaya  yang Allah tanamkan ke dalam...